Di tengah keluarga pasien yang berjuang menghadapi kanker, ternyata anggota keluarga tersebut masih harus memilah informasi hoaks yang merebak di media sosial. Di era internet masih saja ada pihak yang tega dan tidak segan meraup keuntungan terapi kanker tanpa dukungan bukti ilmiah.

Namun boleh jadi, pihak tersebut sebenarnya memiliki niat baik untuk membantu, namun tidak tahu ilmu dasar kanker atau onkologi. Supaya tidak memperburuk situasi, maka perlu kenali ciri-ciri hoaks terapi kanker dengan singkatan M-E-S-T-I

Inilah 5 ciri berita hoaks terapi kanker, yaitu mengklaim bahwa:

1. Murah
2. Efek Samping tidak ada
3. Semua kanker bisa sembuh
4. Testimoni terpilih
5. Ilmiah tapi palsu

Curiga Hoaks? MESTI ingat alasan berikut:

1. Murah 

Faktanya, terapi alternatif tidak murah juga. Apalagi ketika terjadi kekambuhan atau kondisi perburukan, biaya perawatan justru bisa melonjak. Pasien dengan kanker stadium I mungkin perlu mengeluarkan biaya operasi. Tapi dengan menunda operasi, karena ingin coba-coba 'terapi alternatif', ujungnya justru terjadi peningkatan ke stadium lanjut (stadium 3 bahkan 4) maka terapi akan semakin sulit dan semakin mahal.

2. Pengobatan kanker yang efektif pasti ada Efek samping

Kanker adalah penyakit yang muncul akibat akumulasi mutasi gen yang terjadi pada sel tubuh kita sendiri. Akibatnya tidak mudah untuk melakukan terapi pada tubuh kita sendiri. Maka wajar apabila tindakan intervensi akan berdampak kepada efek samping. Dengan kemajuan pengobatan modern, efek samping sudah bisa dikurangi meskipun tidak bisa hilang sama sekali.

3. Sembuhkan semua kanker? Kanker banyak jenisnya, bukan cuma satu

Jarang disadari oleh masyarakat awam, kanker sebenarnya bukan terdiri dari satu jenis penyakit, namun kanker adalah kumpulan berbagai penyakit keganasan dengan gambaran jenis mutasi yang berbeda. Bahkan dua pasien kanker paru, bisa jadi memiliki dua profil mutasi gen yang berbeda. Dengan demikian, terapi nya disesuaikan dengan profil mutasi yang dimiliki pasien. Demikian juga kanker payudara juga memiliki 3 subtipe berbeda berdasarkan ekspresi kelompok protein yang berbeda terkait ekspresi reseptor hormon estrogen, progesteron, dan HER2 (epidermal growh factor receptor tipe 2).

4. Testimoni dari yang 'sembuh', yang gagal atau meninggal diam saja

Klaim terapi kanker alternatif juga mengandalkan testimoni pasien. Misalnya, pasien mengklaim masih hidup 20 tahun paska diagnosis menggunakan terapi alternatif. Faktanya, pasien kanker stadium lanjut yang mampu hidup panjang memang ada, namun jarang sekali. Ketika pasien tersebut bertestimoni, publik sebenarnya tidak mendapatkan gambaran seluruhnya. Berapa banyak pengguna terapi alternatif, berapa persen yang 'sembuh' berapa persen yang 'tidak sembuh'. Masalahnya, pasien yang 'tidak sembuh' tidak bisa memberikan narasi yang bertolak belakang, karena sudah meninggal...

5. Berkesan Ilmiah, tapi palsu

Ini ciri yang paling halus dan tidak hanya mengelabui orang awam, sebagian kalangan terdidik pun bisa terkelabui. Hoaks ini akan menggunakan istilah yang terkesan ilmiah tapi tidak dibuktikan dengan standar yang ketat, alias Pseudoscience. Istilah yang dipakai terkesan ilmiah, seperti 'antineoplaston therapy' (sekumpulan peptida yang diklaim bisa menyembuhkan kanker),'vitamin B17' (padahal bukan vitamin, ini merupakan senyawa sintetik amygdalin yang tidak memiliki bukti penyembuhan kanker).

Bagi yang paham berselancar di internet, lakukan hal berikut untuk menghindari jebakan pseudoscience
1. cek multiple sources, kalau isi berita sama di re-tweet oleh media berbeda itu sama saja.
2. cek otoritas keilmuan, apakah dipublikasi oleh sumber kredibel, atau sekedar website yang admin nya tidak punya reputasi ilmiah yang otoritatif di bidangnya.
3. cek datanya, terutama data survival curve Kaplan Meier, sebagai bukti efektifitas terapi yang diklaim. Untuk mendapatkan data kurva Kaplan Meier, pihak yang mengklaim harus menghadirkan bukti uji klinis. Simak video berikut terkait data Kaplan Meier Curve



Kesimpulan

Kalau berita yang diterima memenuhi kriteria M-E-S-T-I, maka waspadalah berita itu MESTI hoaks!