Tantangan Diagnostik COVID-19 Indonesia: Mitigasi Risiko Dampak Sosial

Oleh Pak Ahmad

Kini sudah jelas bahwa WNI tidak kebal dari infeksi SARS-Cov2 penyebab COVID19. Minggu lalu, CDC (Centre of Disease Control) Cina mempublikasikan data penting terkait deskripsi penyakit COVID19 pada 44 ribu kasus yang terkonfirmasi positif SARS-Cov2 melalui deteksi SARS-Cov2 dengan teknik RT-PCR [1].

Mayoritas atau 80% pasien COVID19 memiliki gejala flu ringan, terutama pada pasien usia muda (dibawah 60 tahun). Namun, penyakit serius atau parah bisa terjadi sekitar 19%, dan tingkat kematian (14% pada pasien di usia 70 tahun ke atas). Sementara itu tingkat kematian pada usia di bawah 50 tahun adalah kurang dari 0.5%.

Sementara itu dampak COVID19 pada tenaga kesehatan adalah kasus serius atau parah 14% dan tingkat kematian dibawah 0.5%. Data ini menunjukkan bahwa tenaga kesehatan tetap memiliki risiko mengalami penyakit serius meskipun sudah menggunakan pakaian pelindung dan masker.

Kita juga jangan pernah meremehkan bahwa tingkat fatalitas kematian antara 0.5-14% dari pasien yang terkonfirmasi terinfeksi SARSCov2 adalah 'rendah' ketika dibandingkan dengan MERS yang memiliki tingkat fatalitas mencapai 30%. Dampak penyakit itu bukan hanya kematian, tetapi juga morbiditas. Cina dengan fasilitas kesehatan yang mumpuni memang mampu 'menekan' tingkat kematian COVID19 diangka 0,5-3% pada penderita usia muda. Tapi jangan lupa pasien yang kritis bisa mencapai 19%. Seandainya saja jumlah pasien yang kritis ini dirawat di negeri yang tidak memiliki fasilitas kesehatan yang memadai, bisa jadi mayoritas yang kritis bisa berakhir dengan kematian..

Lebih pentingnya lagi, tingkat ditemukannya SARSCov2 pada individu tanpa gejala yang diambil sampel dari tes tenggorokan (throat swabs) menggunakan RTPCR sekitar 1.2%.

Foto: Pengambilan sampel tenggorokan untuk deteksi coronavirus penyebab COVID19


LOGIKA SKRINiNG DIAGNOSTIK

Skrining penyakit pada populasi sehat dengan tujuan untuk deteksi dini atau pecegahan memerlukan bukti dan studi serius. Untuk menurunkan kanker serviks, target populasi untuk skrining wanita sehat dengan kombinasi (co-testing) Papsmear/Liquid Based Cytology (LBC) dan tes HPV tidak dianjurkan pada semua wanita. Akan tetapi co-testing menyasar wanita yang telah berhubungan seksual di atas 30 tahun. Mengapa dibawah 30 tahun tidak dianjurkan skrining dengan co-testing? Karena wanita muda yang sexually active cenderung lebih mudah terinfeksi HPV dan juga lebih mudah untuk bisa menghilangkan infeksi HPV tersebut karena daya tahan wanita muda cenderung lebih baik dari wanita di atas 30 tahun. Lebih jauh lagi, skrining pada semua wanita akan menimbulkan dampak biaya kesehatan publik yang tidak perlu (unnecessary burden).

Bagaimana dengan COVID-19: Perlukah tes 'semua' yang pulang dari Cina?

Standar konfirmasi atau penegakan diagnosis adalah terdeteksinya materi genetik (RNA) coronavirus SARSCOV2 penyebab COVID-19 [1]. Untuk keperluan deteksi, sampel diambil melalui throat swab (usapan tenggorokan) dan/atau nasal swab. Di masa awal terjadinya wabah, mayoritas individu yang terbukti mengalami infeksi SARSCov2 adalah penderita yang mengalami gejala berat. Akan tetapi individu yang tidak menunjukkan gejala, juga bisa mengalami infeksi SARSCov2. Hal ini konsisten dengan temuan studi CDC China dimana individu dengan usia muda bisa membawa infeksi virus tanpa menunjukkan gejala.

Kita juga bisa belajar dari laporan dari Jerman, dimana seratus lebih warga negara Jerman dievakuasi dari Wuhan [2]. Studi ini melaporkan bahwa dari 115 warga jerman yang dievakuasi ternyata 2 diantaranya telah mengalami infeksi SARSCov2!

Demikian juga kasus kapal pesiar Diamond Princess dimana dari 3,700 penumpang dan ABK, hampir 700 orang positif terinfeksi SARSCov2. Demikian juga laporan terinfeksinya penumpang warga negara Inggris, dan Amerika yang dievakuasi ke negara mereka masing-masing juga semakin bertambah. Maka tidak heran kalau Jepang memutuskan untuk menguji keberadaan SARSCov2 di semua 3700 orang tersebut. Hingga saat ini sudah 9 dari 78 WNI di kapal pesiar yang terdeteksi SARSCov2.

Menurut peneliti Harvard School of Public Health terdeteksinya SARSCov2 ini pada individu yang tidak menunjukkan gejala adalah tantangan terhadap keselamatan dan ancaman kesehatan masyarakat [3]. Maka Indonesia perlu mempertimbangkan dan belajar dari penerapan standar diagnostik yang dilakukan Singapura sehingga mampu mendeteksi individu yang terinfeksi SARSCov2 meskipun tidak memiliki riwayat perjalanan ke Cina. Uji deteksi virus ini bisa diterapkan pada klaster penyebaran penyakit yang tidak wajar atau pada kasus sesak nafas berat. Memang ini akan menjadi tantangan, tapi ada semacam urgensi mengingat ada dugaan kuat seorang warga negara Jepang yang menderita COVID19 terinfeksi SARSCOv-2 ketika berada di Indonesia.

Pengalaman Natuna dan rencana evakuasi WNI ABK Diamond Cruise

200an WNI yang dievakuasi dari Wuhan tidak dilakukan tes tenggorokan (throat swab) dengan alasan biaya mahal mengingat harga reagens RTPCR yang bisa mencapai 1 Milyar Rupiah.  Informasi tidak dilakukannya throat swab justru menimbulkan pertanyaan baru. Sebenarnya Indonesia mampu atau tidak untuk deteksi SARSCov2? Lalu bagaimana penegakan kesimpulan bahwa Indonesia memang benar2 negatif dari SARSCov2? Sedangkan jumlah WNI yang berada di luar negeri justru semakin bertambah yang terinfeksi virus ini? Maka, rencana evakuasi ABK WNI dari kapal pesiar Diamond Princess, juga perlu mempertimbangkan untuk mengecek status infeksi coronavirus pada semua WNI ABK meskipun tidak bergejala.

Antisipasi Dampak Sosial

Kini kita tahu, bahwa penyakit COVID-19 ini mayoritas menimbulkan gejala ringan ketika terjadi pada orang muda. Maka tidak heran mayoritas WNI dari Wuhan yang rata-rata berusia 24 tahun bahkan tidak menunjukkan gejala klinis. Tapi bukan itu yang kita kuatirkan. Yang kita kuatirkan adalah ketika individu yang tidak bergejala dan memiliki SARSCov2 menularkannya kepada individu  lansia (terutama usia 70 tahun ke atas) yang sangat riskan untuk jatuh sakit dengan dampak berat bahkan fatal.

Jangan lupa, kasus merebaknya penularan SARSCov2 di kapal pesiar Diamond Cruise diawali dari satu penumpang berusia 80 tahun yang positif SARSCov2, dan menimbulkan penularan hampir 20% dari seluruh penumpang dan ABK kapal tersebut! Dalam bahasa epidemiologi, dia adalah superspreader.  Dan kita juga tahu Indonesia memiliki banyak tantangan dalam infrastruktur fasilitas kesehatan. Indonesia masih harus menghadapi wabah demam berdarah (yang disebabkan oleh virus Dengue) dan korban meninggal juga tidak sedikit, dan pasien demam berdarah pun memerlukan fasilitas perawatan khusus dan intensif.

Maka untuk saat ini tidak bijak menjadikan angka 1 Milyar Rupiah sebagai angka yang mahal, karena mahal itu relatif. Dampak sosial yang terjadi apabila satu saja individu yang positif bertemu dengan kakeknya dan kakeknya menularkannya ke jamaah masjid yang dia rutin hadir sungguh tidak main2. Apalagi pengurusan jenazah pasien COVID19 belum ada SOP yang perlu dipahami oleh komunitas kita. Jangan sampai jenazah pun bisa menjadi superspreader..